Jangan Pernah Memandang Rendah Penampilan Orang Lain

Jangan Pernah Memandang Rendah Penampilan Orang Lain

7

Pernahkah Anda merasa tak percaya diri karena bentuk tubuh atau apa yang orang lain lihat tentang diri Anda. Jangan bersedih, Dear. Jangan biarkan orang lain menilai Anda hanya berdasarkan penampilan Anda. Seperti kisah berikut ini.

Seorang perempuan menggunakan rok terusan yang lusuh, berjalan tertatih-tatih bersama sang suami yang menggunakan jas cokelat yang usang. Mereka naik kereta dari Boston menuju ke Harvard untuk menemui sang pemimpin di kantornya yang mewah.

“Kami ingin bertemu dengan presiden direktur,” ujar sang laki-laki. “Ia sibuk seharian,” potong sang sekretaris. “Kami akan menunggunya,” kata sang istri. Selama beberapa jam, sang sekretaris tak menghiraukan keberadaan pasangan ini dengan harapan mereka akan bosan sendiri dan meninggalkan tempat itu. Tetapi mereka berdua justru setia menunggu. Karena kesal, sang sekretaris akhirnya memutuskan untuk mengabarkan keberadaan pasangan asing itu kepada presiden direktur.

Akhirnya sang presiden direktur bersedia menemui pasangan yang telah menunggu berjam-jam itu. “Apa keperluan Anda berdua? “Sang istri angkat bicara, “Kami memiliki seorang putra yang rencananya akan kuliah di tempat ini. Ia sangat ingin kuliah di Harvard. Tetapi, setahun yang lalu, ia meninggal karena kecelakaan. Saya dan suami saya ingin mengenangnya.

“Presiden direktur itu terkejut. “Bu, kami tidak dapat mendirikan monumen untuk setiap orang yang berkuliah di sini yang kemudian meninggal. Jika kami melakukannya, tempat ini akan tampak seperti pemakaman.” “Oh, tidak,” sela sang istri. “Kami tidak ingin membangun monumen. Kami ingin memberikan sebuah bangunan untuk tempat ini.

“Presiden direktur itu memicingkan mata melihat penampilan dua orang di hadapannya. “Bangunan? Apakah Anda pernah menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun sebuah bangunan di tempat ini? Kami menghabiskan biaya 7,5 juta dolar untuk membangun seluruh gedung di universitas ini!

“Sang presiden direktur merasa kesal karena waktunya terbuang sia-sia mendengarkan dua orang asing yang dianggapnya meracau itu. Sang istri menggandeng tangan suaminya dan berbisik pelan, “Apakah biaya membuat sebuah universitas hanya sebesar itu? Mengapa kita tidak membuatnya sendiri?

“Tuan dan Nyonya Leland Stanford pergi meninggalkan tempat itu, pergi ke Palo Alto, California dan membangun sebuah universitas yang sangat terkenal, Stanford University. Sebuah kenangan untuk sang anak yang awalnya tak dihiraukan, telah mengubah hidup mereka menjadi sosok yang dikenang seluruh dunia.