Dapoer Kopi : Cara Unik Menikmati Kopi Toraja di Jakarta

Pasar Santa kini memiliki beberapa kedai kopi. Mulai dari pembelian biji kopi hijau hingga minum kopi berkualitas dapat dilakukan. Salah satu tempat kedai kopi spesialti yang ada di pasar Santa adalah Dapoer Kopi.

Dapoer Kopi menjadi kedai kopi spesialti pertama di pasar Santa yang berdiri sejak tahun Mei 2011. Sang pemilik, Christine Tandibua, menjual kopi single origin asal Toraja, Sulawesi Selatan. Kopi-kopi ini dibeli dari petani di Toraja dalam bentuk gabah. Pengolahan kopi seperti penjemuran hingga penyortiran dilakukan sendiri baru kemudian dikirim ke Jakarta.

Jika biasanya masyarakat mengenal kopi Toraja dengan nama Kalosi, Dapoer Kopi justru memperkenalkan kopi Sapan dan Yale. Sapan dipilih karena merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Toraja. Kopi pekat dengan rasa asam buah itu sempat memecahkan rekor kopi termahal pada Lelang Kopi Spesialti Indonesia tahun 2012 yang dibawa oleh Asosiasi Petani Kopi Toraja.

Sedangkan kopi Yale yang rasanya lebih manis dan ringan ini hanya dapat ditemui di Dapoer Kopi. Kopi Yale pernah mengikuti lomba Indonesia Barista Championship (IBC) 2014 dan mendapatkan juara ke-2. Oleh juara pertama IBC, kopi tersebut dibawa ke Italia saat World Barista Championship (WBC).

k3

Christine yang asli Sapan Minanga sudah menjalani usaha kopi jauh sebelum Dapoer Kopi berdiri di pasar Santa. Ayahnya memiliki bisnis kopi di Toraja sejak 30 tahun lalu. Karena kecintaannya pada kopi, sarjana teknik elektro ini memilih meninggalkan pekerjaannya di perusahaan swasta dan kemudian berbisnis kopi.

Ia pun nekat membawa biji kopi mentah dari beberapa wilayah di Toraja yang saat itu belum dikenal pasar. Christine juga termasuk salah satu pemain perempuan yang jumlahnya masih sangat sedikit dalam bisnis biji hijau di Indonesia.

k1
“Awalnya saya pengin jualan kopi. Temen saya bilang jualan kopi bubuk saja. Tapi saya maunya jualan green bean yang masih mentah. Teman bilang susah kalo jual green bean. Terus ada salah satu customer kebetulan sedang cari green bean. Dari tahun 2008 kirim saya sampel kemana-mana. Akhirnya ada yg mau beli sampai 5 kg. Mulai dari situ saya jualan,” tutur Christine.

Saat baru berdiri, Dapoer Kopi yang terletak di lantai 1 pasar Santa ini dibuat untuk workshop penjualan biji kopi mentah. Namun karena banyaknya permintaan, Dapoer Kopi menyediakan roasted bean dan kopi tubruk bagi yang ingin mencicipi rasanya sebelum membeli biji kopi. Pelanggan Dapoer Kopi pun tak hanya berasal dari dalam negeri, namun banyak juga dari luar seperti Amerika Serikat, Jepang dan Korea.

Saat ini green bean Sapan dijual seharga Rp 98.000/kg, sedangkan Ya-Le dijual Rp 130.000/kg. Untuk roasted bean Sapan harganya Rp 60.000 per 200 gr dan Ya-Le Rp 75.000 per 200 gr.

Bila ingin mencoba kopinya, roasted bean akan langsung digiling dan diseduh air panas seperti umumnya pembuatan kopi tubruk. Secangkir kopi spesialti disana hanya dihargai harga Rp 3.000 – 7.000.

Virgani, suami Christine dalam menjalankan Dapoer Kopi, menyebutkan misi keberadaan kedai kopinya lebih untuk mengedukasi peminum kopi disini agar dapat meminum kopi asli Indonesia yang berkualitas.

“Jepang dan Korea tidak punya kopi tapi tingkat minum kopinya tinggi. Mereka dapat kopi beli gelondongan dari Indonesia. Di sana kopi dipisah-pisah baru dijual dengan harga tinggi. Ketika ditanya, mereka bilang kopinya sama baiknya dengan di Indonesia cuma di sini harganya lebih murah. Sesuatu yang dianggap bagus oleh orang asing juga pengin dianggap bagus di rumahnya sendiri,” tutup Virgani.

(Sumber Detik).

k4